Laman

Jumat, 02 Desember 2011

Betapa Aku Mencintai Kamarku

Berantakan. Sungguh berantakan. Bersudut-sudut terhambur segala barang. Kasur yang tak pernah terrapikan. Sarang gonggo yang teronggok di sudut langit-langit. Aroma asam membekaskan keringatku semalam. Udara panas dengan tanpa mesin kipas apapun.

Semua tak kupedulikan. Malas rasanya merapikan. Malas rasanya membersihkan. Malas rasanya mewangikan.

Kemalasan ini perlahan menjadi rasa malu. Bukan pada orang tuaku, bukan pada adikku, bukan pada paman-bibiku, atau pada temanku yang sesekali berkunjung. Namun aku malu pada perasaanku yang sesungguhnya. Perasaanku yang tak sepadan dengan perbuatanku.

Suatu hal membuatku sadar. Ketika kamarku dipakai orang. Aku merasa sangat kehilangan.

Teringat saat aku di dalam sana. Menguarkan air mata saat pilu datang. Sambil mengunci pintu agar tak ada yang tahu. Atau ketika tertawa dan tersenyum sendiri ketika bahagia. Sambil mengunci pintu agar tak disangka orang gila. Atau ketika berkhayal menjadi apapun sambil mengeluarkan gerak gerik tertentu. Atau ketika sibuk sendiri mengerjakan tugas pendidikan. Dan yang terpenting, ketika aku memeluk gulingku dan terlelap sampai pagi menjelang.

Aku kehilangan momen-momen itu. Walaupun hanya untuk satu atau dua malam. Baru aku dapat disadarkan, betapa aku mencintai kamarku.

Bekasi, 02/12/11

Selasa, 30 November 2010

Pondok Sejuk Rindu


senyum lugu telah disampaikan kepada hati oleh mata

di sana, di pondok itu

anak-anak pemberani

singkat memang waktu kita bersua

namun hatiku menyimpan rindu yang sama sekali tak singkat

sejuk menapaki raga dan batin ini

ketika tangan mereka terbuka lebar menyambut hadirku

kagumku tak berkesudahan

ketika kutahu merekalah para penerus cahaya

tak gentar jiwa kanak-kanak mereka mempersiapkan diri menjadi penegak

mandiri serta lugu, sesal ku tak mempunyai itu dahulu

bukan materi atau teknologi yang membahagiakan mereka

layaknya jiwa kanak-kanak kota

namun canda dan tarikan ruh persahabatan yang rekat dan suci

serta lingkungan alami nan cantik

membuat hari-hari menjelma menjadi mimpi indah

bidadari pasti tersenyum tatkala melihatnya

tak kuasa ketika ku pamit pulang

mengakhiri kesejukan yang mereka persembahkan

meminta kami untuk kembali kelak ke pondok itu

meminta kami untuk tetap menjalin percakapan mimpi

inilah berkah kesejukan tiada tara

sengaja diselipkanNya diantara tebal lembaran hidupku

aku selalu rindu, tak bisa terlupa

senyum lugu para kesatria mandiri calon penegak cahaya

di pondok itu

Bekasi, 30/11/2010

untuk para kesatria mandiri calon penegak cahaya Pondok Penyejuk Bina Qolbu, Cilember, Bogor.

Senin, 25 Oktober 2010

Aku Bercerita

Aku bercerita tentang kisah yang tiada tandingannya di dunia. Memahami kodrat yang bisa membuahkan berlusin dosa. Kodrat ataukah hanya sekedar ujian semata. Akankah sebelum akil baliq ujian itu diberikan? Kurasa berat bagi manusia.

Ujian yang berlipat ganda dan berkesinambungan dan saling berkomplementer untuk mendorong ke jurang neraka. Kesepian satuhal pertama tentang ujian itu. Sepi di hati dan di mata. Tentu sebagai makhluk cerdas senantiasa mencari cara mengkremasi kesepian itu. Berbekal hal kedua dalam ujian, ketertarikan pada dimensi lain. Dimensi yang terabadikan pernah terkutuk dan terbinasakan. Kesanalah tempat kremasi kesepian itu berada, yang termudah, dan yang menarik.

Haha.. hanya bisa tertawa, tawa sang setan. Terkadang menangis karena teringat cahaya. Tetapi kemudian bersendawa puas atas kenikmatan semu. Hanya menunggu, Malik yang menyambut di pelataran neraka, ataukah keajaiban yang membuat Ridwan tersenyum sebagai penyambutan di lobby utama negeri surga. Para cahaya sejati, raihlah tangan ini untuk mewujudkan keajaiban itu, itupun jika kau semua benar-benar cahaya sejati, haha.. tawa sang setan.

Bekasi, 23/10/10